Anaknya Raja Kampung Berkembar

Downloads: 
  • File icon Anaknya Raja Kampung Berkembar (teks dalam tiga bahasa)
    Download Lihat109.27 KB

Judul dalam bahasa Kulisusu: Anano Lakino Lipu Ndorapia

Diceritakan oleh: La Ode Umar M.

Tanggal: tahun 2013


Anaknya Lakino Lipu (raja kampung) lahir kembar. Namanya Tobo Walambangi Dunia dan Hancu Pata Alamu. Sejak lahir di dada mereka sudah ada tulisan nama mereka. Kemudian setelah mereka agak besar dibuatkan permainan berupa keris dan pedang. Sarungnya terbuat dari emas. Mereka selalu bermain-main di bagian tengah rumah. Tak lama kemudian mereka minta dibelikan ayam jantan untuk bersabung.

Mereka minta izin turun di bagian teras untuk menyabung ayam. Kemudian mereka turun di bawah kolong rumah, kemudian keluar ke halaman, kemudian mereka keluar pagar, setelah itu mereka pergi ke rumah orang lain. Tidak lama kemudian mereka menemukan perahu yang berlayar di pantai dan mereka naik menumpang di situ dan berlayar juga.

Ayah mereka jadi susah hatinya, karena sudah lama mereka tidak kembali ke rumah. Dikumpulkanlah syarah untuk mencari mereka, namun mereka tidak temukan. Karena kesedihan ayah dan ibu mereka, sampai-sampai ketika mendengar ayam berkokok mereka sembelih; mendengar anjing menggonggong mereka tombak.

Tidak lama kemudian datanglah perahu di pelabuhan dengan membunyikan gendang. Lakino Lipu memerintahkan syarah pergi melarang mereka agar tidak membunyikan gendang. “Kasitahu orang di perahu itu,” katanya Lakino Lipu, “saya ini sedang kesusahan dan tak bias tidur, anak saya Tobo Walambangi Dunia dan Hancu Pata Alamu sudah lama pergi tak kembali-kembali. Pergilah usir perahu yang menmbunyikan gendang itu.”

Setelah para syarah sampai di sana dan melarang mereka, orang-orang di perahu itu berkata, “Kami tidak akan berhenti membunyikan gendang ini kalau tuan Lakino Lipu belum bertemu dengan kami.” Akhirnya Lakino Lipu pergi menemui mereka. Sesampainya di sana, ia ditanya, “Apa yang Tuan susahkan, sehingga kami dilarang membunyikan gendang?” Lakino Lipu menjawab, “Saya susah karena anak saya Tobo Walambangi Dunia dan Hancu Pata Alamu sudah lama pergi.” Lakino Lipu tidak tahu padahal anaknya ada di perahu itu.

Akhirnya kedua anak itu membuka bajunya, dan terlihat tulisan nama di dadanya dan juga dilihatnya ada keris dan pedang bersarungkan emas sebagai tanda bahwa kedua orang itu adalah anaknya Lakino Lipu (Tobo Walambangi Dunia dan Hancu Pata Alamu), sehingga mereka berpelukan dan mereka menangis.

Sesudah itu mereka kembalil ke rumah Lakino Lipu bersama istrinya Tobo Walambangi Dunia dan Hancu Pata Alamu. Mereka tidak menginjak tanah, tetapi berpijak dan berjalan di atas kain putih dari pelabuhan sampai ke rumah. Setelah sampai di rumah, mereka berpesta pora dan membuat keramaian.

Tamat.


Cerita ini dapat diambil dalam bentuk pdf yang ditulis dalam tiga bahasa.


BACA
CERITA
LAINNYA


 

TEXT_Rapia_(400x300).jpg